Opini

Jogja Semakin Mendalam

285
×

Jogja Semakin Mendalam

Sebarkan artikel ini
Jogja
Jogja Semakin Mendalam

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)

Jogja, ya, Jogjakarta mungkin tidak sekaliber Jakarta, atau yang sedang trending di Indonesia saat ini perihal ibukota, yaitu IKN, namun sejarah menjadi fakta Jogja sebagai tempat terpusatnya Indonesia.

Tidak seperti ketampakannya, Jogja lebih dalam dari sekedar indah di permukaan. Hendak mengungkapkan berupa kata, “kampung halaman sendiri” dan sisanya tidak terbahasa sebagai frasa melebihi ibarat kata-kata cinta terhadapnya.

Jadi teringat obrolan dengan sesama penumpang di bus menuju daerah saya tentang bagaimana membalas jasa Jogja atau sekedar mengungkapkan bentuk rasa tersebut. Seorang wanita yang belum sempat ditanyakan namanya namun tidak sebaliknya. “Mengapa tidak cari kerja di sana?” Tanya perempuan yang juga selain jebolan kampus di Jogja juga adalah berasal dari transmigran daerah berjuluk istimewa tersebut.

“Sebenarnya sudah sempat!” Jawabku singkat menyelingi obrolan panjang kami tentang pekerjaan dan Jogja kala itu. “Namun apa yang mau dikontribusikan untuk Jogja?” Gali saya. “Orang kaya, orang pintar dan macam-macam kelebihannya”, “bahkan kampus tempat kuliah saya saja merupakan hibah sultan” entah apa yang ada di pikiran waktu itu hingga tercetus ungkapan itu. Namun wanita tersebut mengiyakan juga.

Perjalanan kota yang tersohor dengan julukan kota pelajar sampai mancanegara tersebut telah menghadapi banyak terpaan. Tidak hanya gejolak sosial, alam sampai identitas keistimewaan sedemikian rupa mewarnai perjanan seiring dengan kedewasaan negeri ini dengan kontribusi berbagai lulusannya. Harga mahal tersebut terbukti dengan kualitas masyarakat, wisata alam dan budaya yang senantiasa terjaga.

Berharap dapat berkontribusi informasi berupa pandangan pribadi akan membawa dampak positif. Edukasi terhadap masyarakat tentang suatu destinasi khususnya bagi mereka yang hendak belajar. Menjadi “well educated” tentu bukan hanya dapat membentuk karakter bangsa yang cerdas sebagaimana amanat undang-undang, namun tentunya bertaqwa yang berkesusaian dengan Pancasila.

“Jogja berhati nyaman” berpengaruh pada kondusifitas berbagai proses kehidupan yang terjadi. Siapa yang berhasil hengkang dengan nyaman dari Jogja? Jawabannya adalah tidak sedikit yang belum bisa “move on!” Sebab selain perlahan menyadari arti perubahan sekaligus bertugas menjadi agen perubahan di kampung halaman.

Keunikan Jogja bagi para pendatang dan berdomisili adalah terkait kuliner. Gudeg bukan makanan favorit di sana. Kebanyakan mereka lebih memilih warung makan yang disediakan pendatang juga, seperti disebut Burjo (Bubur Kacang Hijau/”Ijo“), atau makanan yang dapat ditemukan di tempat lain namun kemasan khas seperti di Angkringan. Selain itu, terdapat nuansa pendidikan yang masing-masing kampus memiliki karakteristik khas, berbeda dan semua berjalan kondusif dengan warna khas masing-masing, religius, nasionalis dan lain sebagainya. Sekali lagi, mengingatnya adalah rindu, dan diingatkan akan Jogja membuatnya semakin jauh mendalam. (*)