PADANG, ONTIME.ID— Angka perceraian pasangan suami istri di Sumatra Barat mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Puncaknya pada 2021 kemarin, jumlah orang yang bercerai mencapai 9 ribu lebih kasus.
Berdasarkan data Kantor Wilayah Kementerian Agama, faktor ekonomi menjadi penyebab paling banyak pasangan suami istri memutuskan berpisah. Di sisi lain, terungkap bahwa istri merupakan pihak yang paling banyak mengajukan gugatan cerai.
Kepala Seksi Kepenghuluan Kanwil Kemenag Sumbar Syafalmart kepada ONTIME.ID mengungkapkan secara umum perbandingan antara jumlah nikah dan jumlah cerai pada tahun 2021 berada di angka 20,62 persen. Pada 2021 angka pernikahan di Sumbar tercatat sebanyak 45.407 pasang.
“Kasus perceraian 9.364 itu di antaranya gugat cerai sebanyak 6.992, sementara talak sebanyak 2.372. Cerai itu yang berinisiatif mengajukan adalah perempuan, sementara talak yang berinisiatif mengajukan dari pihak suami,” katanya, Kamis (17/6).
Angka itu meningkat jika dibandingkan dengan kasus perceraian yang terjadi setahun sebelumnya. Pada tahun 2020, katanya, terjadi 8.386 kasus perceraian yang juga didominasi cerai gugat.
“Cerai sebanyak 6.209 dan talak berjumlah 2.177 kasus. Perbandingan antara nikah dan cerai tahun 2020 itu 19,37 persen. Pernikahan yang terjadi pada tahun 2020 itu berjumlah 43.290 pasang,” katanya lagi.
Jadi, sambung Syafal, pernikahan dan perceraian pada tahun 2021 meningkat jika dibandingkan dengan yang terjadi selama tahun 2020 di Sumbar. “Artinya jika dibandingkan, ada peningkatan kasus perceraian di Sumbar dari tahun 2020 dan 2021, lebih kurang peningkatannya 1.000 kasus,” katanya.
Butuh Solusi Konkrit
Syafal mengatakan tingginya kasus perceraian di Sumbar harus jadi bahan renungan oleh semua pihak dan semua pengambil kebijakan. Sebab ini bukan fenomena yang bisa dipandang sebelah mata, dibutuhkan intervensi untuk mencari akar persoalan yang mengakibatkan terjadinya perceraian di dalam rumah tangga.
“Kami di Kanwil Kemenag sudah memetakan sejumlah persoalan. Ekonomi tetap jadi masalah utama yang menjadi pemicu terjadi cekcok dan perselisihan di dalam rumah tangga dan juga memicu terjadinya penelantaran di dalam keluarga,” katanya.













