SUMBAR

Perceraian Tingkat Tinggi, 9 Ribu Duda dan Janda Baru

573
×

Perceraian Tingkat Tinggi, 9 Ribu Duda dan Janda Baru

Sebarkan artikel ini
perceraian
Perceraian Tingkat Tinggi, 9 Ribu Duda dan Janda Baru

“Jadi sebuah perkawinan dijaga dan dirawat keluarga. Mungkin itu pula yang renggang kini. Sebab orang-orang kini lebih mengacu kepada keluarga inti bukan keluarga besar. Jadi persoalan hanya diselesaikan suami istri. Tidak ada keluarga besar yang memberikan edukasi, nasehat dan mediasi kalau ada masalah,” ucapnya.

Efek Sosial Media

Salah satu faktor yang kini mempengaruhi ketahanan keluarga adalah sosial media. Banyak kasus perselingkuhan muncul akibat pergaulan di sosial media.

“Istri curhat ke suami orang lain. Curhat sekali, dua kali, tiga kali dimana pula tidak akan tergoda. Ini dampak buruk dari medsos,” kata Bundo.

Menurutnya kalau pasangan tidak punya dasar/pondasi yang kuat tentu mudah tergoyahkan. Istri yang seharusnya melayani suami, kenyataannya malah asyik mengurus sosial media segala macam. Jika pondasi yang tidak kuat, rapuh akan murah pecah. Kalau pondasi kuat, edukasi dari keluarga kuat masalah bisa diselesaikan.

“Jadi solusinya yang paling utama diperlukan pembekalan pranikah kepada catin. Untuk apa ia menikah. Sudah itu apa tanggung jawab masing-masing. Konsep itu harus duduk. Tentu bisa duduk karena ada ajaran agama dan adat. Di minang sendiri juga berlandaskan ABS SBK, seharusnya ini sudah duduk sebelum menikah, apa sebenarnya pernikahan itu,” tuturnya.

Selain itu yang menarik, kondisi saat ini kalau ada konflik dalam keluarga ujungnya cuma satu “cerai”. Padahal ada jalan lain yang bisa ditempuh untuk bisa kembali bersama melanjutkan rumah tangga. (*/red)